Menyongsong Tahun Internasionalisasi, UNNES Mendunia dengan Karya

TANTANGAN masyarakat pendidikan Indonesia dan dunia terus bertambah. Menjadi lembaga yang berprestasi saja tidak cukup. Lembaga pendidikan juga harus adaptif dalam merespon perubahan masyarakat nasional dan internasional.

Kondisi itulah yang membuat Universitas Negeri Semarang (UNNES) tidak cukup lagi “berlari”. Lembaga ini harus “melompat” bahkan “terbang”.  Selain melakukan perubahan kecil yang berkesinambungan UNNES juga melakukan lompatan-lompatan besar yang terencana.

Lompatan itu antara lain dilakukan dengan menetapkan dan mencapai target tinggi pada periode tertentu. Setelah sukses melampaui tahun inovasi pada 2016 dan tahun reputasi pada 2017, tahun 2018 UNNES menetapkan menjadi tahun internasionalisasi.

Pada tahun inovasi (akhir 2016), UNNES telah berhasil meraih akreditasi institusi A (unggul). Adapun pada tahun reputasi UNNES berkomitmen menerapkan tri dharma perguruan tinggi melampaui standar nasional yang ditetapkan dalam Permenrsitekdikti Nomor 44 tahun 2015.  Berbekal berbagai capaian itulah UNNES siap menyongsong tahun 2018 sebagai tahun internasionalisasi.

Menjadi Masyarakat Dunia

Secara filosofis, tahun internasionalisasi berangkat dari kesadaran bahwa manusia Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia. Kesadaran ini telah tumbuh sejak Indonesia dirancang oleh sejumlah pendiri bangsa. Hubungan antarbangsa dan antarnegara merupakan keniscayaan untuk menghadapi berbagai tantangan bersama.

Dalam draf awal Pancasila yang disampaikan Soekarno untuk pertama kali, internasionalisme (dan kemanusiaan) hadir sebagai prinsip yang mengatur hubungan Indonesia dengan masyarakat dunia. Dengan prinsip internasionalisme, bangsa Indonesia mengakui hubungan antarbangsa sebagai keniscayaan.

Dalam dunia pendidikan, internasionalisme merupakan keniscayaan karena ilmu pengetahuan dipersepsi sebagai objek yang universal. Ilmu pengetahuan bahkan objek yang sangat cair sehingga kerap menerobos batas teroterial dan politik. Ilmu pengetahuan menghubungkan satu manusia dengan manusia lain, menghubungan lembaga pendidikan satu dengan lembaga pendidikan lain,juga menghubungkan bangsa satu dengan bangsa lain.

Dalam konteks seperti itulah internasionalisasi UNNES dicanangkan. Sebagai lembaga pendidikan, UNNES memandang bahwa dirinya tidak terpisah dengan lembaga keilmuan lain di berbagai negara.

Secara kronologis internasionalisasi merupakan kelanjutan dari prestasi tahun-tahun sebelumnya. Artinya, untuk menjadi universitas bereputasi internasional, tradisi inovasi dan reputasi yang dipbangun pada tahun sebelumnya tetap harus dijaga dan ditingkatkan.

Tahun internasionalisasi juga merupakan periode yang tidak terpisahkan dari rencana UNNES menjadi perguruan tinggi mandiri pada tahun 2019. Capaian masa lalu, tantangan masa kini, dan visi pada masa depan merupakn lintasan waktu yang tidak dapat dipisahkan.

Bersanding dan Bersaing

Internasionalisasi UNNES pada tahun 2018 dilakukan dalam dua kerangka besar, yaitu bersanding dan bersanding. Internasionalisasi sendiri dipahami sebagai target penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi yang digunakan agar bisa bersanding dan atau bersaing dengan perguruan tinggi lain di dunia.

Semangat bersanding adalah semangat berkolaborasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat dan alam semesta. Dalam posisi ini, UNNES menempatkan diri sebagai partner bagi perguruan tinggi lain mengatasi masalah-masalah global secara bersama-sama.

Semengat bersaing adalah semangat berprestasi dalam usaha terus meningkatkan kualitas diri. Bersaing di sini tidak bermakna negatif untuk saling mengalahkan, tetapi justru bermakna positif yaitu terus mengembangkan diri. Semangat bersaing diperlukan karena permasalahan dunia semakin kompleks sehingga harus dijawab dengan solusi yang lebih canggih.

Agar bisa bersanding sekaligus bersaing, UNNES telah menetapkan sembilan target strategis. Kesembilan target tersebut adalah (1) rangking dan rating internasional, (2) akreditasi internasional, (3) kelas/rombel internasional, (4) mahasiswa asing/internasional, (5) mobilitas internasional dosen dan mahasiswa, (6) riset dan publikasi internasional, (7) buku internasional, (8) reputasi dan prestasi internasional mahasiswa, dan (9) pusat unggulan inovasi dan HKI.

Sembilan target besar itulah dirinci menjadi target-target operasional yang lebih teknis. Unit-unit tertentu bertanggung jawab meraih target pada bidang-bidang tertentu yang spesifik. Oleh karena itu, capaian itu ditentukan oleh kerja keras dan komitmen semua pihak.

Berubah dan Berbenah

Perubahan-perubahan besar yang dilakukan UNNES berangkat dari keyakinan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Dalam proses berubahan itu ada tiga tipe subjek, yaitu aktor pengubah, aktor adaptif, dan aktor yang dipaksa berubah.

Sebagai lembaga pendidikan yang aktif dan senantias bergairah, UNNES harus menjadi aktor pengubah. Dalam kapasitas ini UNNES menjadi aktor yang menginisiasi perubahan dan menentukan ke arah mana perubaha dilakukan.

Untuk mempersiapkan diri menjadi aktor pengubah, pembenahan telah dan akan terus dilakukan UNNES dalam berbagai bidang.  Pembenahan yang paling kasat mata adalah peningkatan fasilitas pembelajaran yang terus-menerus dilakukan. Tetapi di luar itu, aspek-aspek metastruktur juga terus dibenahi.

Setelah semangat berinovasi dan kesadaran reputasi dibentuk, pelayana prima terus dijaga. UNNES juga terus mewujudkan good governance university antara lain dengan menetapkan diri masuk dalam zona integritas. Bersamaan dengan itu, prestasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan juga terus ditingkatkan.

Berbagai perubahan itu dilakukan agar UNNES menjadi lembaga pendidikan yang lebih baik dari hari ke hari sehingga dapat melayani anak-anak bangsa untuk mengembangkan diri menjadi generasi yang berkarakter. Semoga Tuhan meridai setiap usaha kita.

– Prof Dr Fathur Rokhman MHum, Rektor Universitas Negeri Semarang

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


14 − one =