WAWASAN KONSERVASI DALAM PEMBELAJARAN

Screen Shot 2017-01-23 at 8.49.36 AM

Dalam kurun 5 tahun kondisi mahasiswa dapat saja mengalami perubahan baik secara psikologis, cara belajar,  maupun lingkungannya. Sekarang, pada dekade ke dua abad ke-21, pendidikan tinggi memasuki tahap yang  mendesak dan menantang untuk menghadapi inovasi digital yang sangat pesat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hampir di semua usia, terlebih mahasiswa. Keberlanjutan program pendidikan yang dirancang sering lambat dalam merespon tantangan (Desha dan Hargroves, 2014). Ketersediaan sumber belajar cetak maupun elektronik yang mudah diakses mahasiswa di satu sisi menjadikan derasnya infomasi ilmiah yang dapat memperkaya materi perkuliahan. Tetapi jika tidak diarahkan dengan benar, mahasiswa akan lebih banyak mengakses laman-laman yang bersifat hiburan dan kenyataannya itulah yang menjadi gaya hidup sekarang. Perangkat gawai (gadget) seperti lap top, smart phone, i-phone, i-pad, tablet yang terjangkau oleh daya beli masyarakat dan mudah dibawa ke mana saja disertai tersedianya akses internet memudahkan pengguna menikmati berbagai layanan terutama media sosial maupun game on line. Waktu belajar menjadi berkurang oleh kesenangan menggunakan fasilitas smart phone atau perangkat elektronik lain yang menyita waktu.

Berdasar kondisi masyarakat dan perkembangan teknologi, kelas konvensional di perguruan tinggi sudah harus ditinggalkan. Kelas dengan dosen yang aktif memberikan materi dengan mahasiswa jumlah besar mendengarkan dan membuat catatan di tangannya tidak lagi menarik, kecuali dosen sangat menguasai materi dan menguasai kelas. Sebaliknya proses pembelajaran di perguruan tinggi harus terus ditigkatkan dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Kesempatan untuk menggali informasi dari berbagai sumber, berkreasi, berekspresi terhadap suatu materi pembelajaran diberikan kepada mahasiswa tetapi tetap harus dijaga agar materi perkuliahan yang direncaakan tetap tersampaikan.

Penyelenggaraan pendidikan yang utama adalah proses belajar mengajar atau disebut proses pembelajaran. Banyak faktor yang menentukan kualitas proses pembelajaran antara lain kurikulum, dosen, mahasiswa, tenaga dan sarana pendukung belajar. Pembelajaran berkualitas harus memenuhi standar pendidikan. Standar Nasional Pendidikan menurut SN-Dikti terdiri atas:  (1) standar kompetensi lulusan;  (2) standar isi pembelajaran; (3) standar proses pembelajaran; (4) standar penilaian pembelajaran; (5) standar dosen dan tenaga kependidikan;  (6) standar sarana dan prasarana pembelajaran; (7) standar pengelolaan pembelajaran; dan (8) standar pembiayaan pembelajaran. Pengembangan, penyelenggaraan, dan evaluasi kurikulum di perguruan tinggi mengacu pada ke delapan standar tersebut.

Setiap perguruan tinggi menetapkan standar pendidikan yang minimal sama dengan SN-Dikti (Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015). Konsekuensi dari akreditasi unggul yang dicapai oleh UNNES pada tahun 2017, harus diikuti dengan keunggulan dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Penyelenggaraan pendidikan unggul disamping memenuhi SN-Dikti juga harus ditunjukkan keunggulan dan kekhasan UNNES sebagai wujud pencapaian visi berwawasan koservasi dan bereputasi internasional. Tulisan ini membahas suatu alternatif pemikiran bagaimana mengembangkan pembelajaran berwawasan konservasi yang masih banyak dipertanyakan pengampu matakuliah di UNNES.

Implementasi wawasan konservasi dalam kurikulum di UNNES diawali dengan matakuliah Pendidikan Konservasi untuk semua mahasiswa baru mulai angkatan tahun 2015/2016 di semester 1. Matakuliah ini menanamkan dan mengembangkan sikap peduli terhadap konservasi sumberdaya alam, lingkungan fisik, seni, sosial budaya, dan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat. Perkuliahan tidak lagi konvensional tetapi berupaya memusatkan aktivitas pada mahasiswa untuk kreatif dalam mengekspresikan sikap pedui pada lingkungan fisik, senam konservasi, tari konservasi, dan berbagai tema menarik dalam suatu simulasi.

Bagaimana implementasi wawasan konservasi pada matakuliah yang lain? Penyelenggaraan pendidikan diawali dengan penyusunan dan pengembangan kurikulum, penyusunan RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dan bahan ajar, pelaksanaan perkuliahan yang berpusat pada mahasiswa, dan evaluasi hasil belajar. Semua proses diikuti dengan monitoring dan evaluasi untuk menjamin ketercapaian standar mutu yang ditetapkan. Dalam dokumen kurikulum, wawasan konservasi harus dituangkan dalam rumusan capaian pembelajaran sikap, pengetahuan, dan keterampilan untuk membentuk profil lulusan yang ditetapkan oleh program studi. Lebih operasional wawasan konservasi dituliskan dalam RPS. Dosen menyusun RPS yang memuat deskripsi matakuliah, capaian pembelajaran lulusan, capaian pembelajaran matakuliah, tujuan yang diharapkan setiap tahap/pertemuan beserta indikator ketercapaiannya, bahan kajian/materi pekuliahan, metode yag diterapkan, alokasi waktu, dan bobot penilaiannya. Alokasi waktu 1 sks untuk perkuliahan di kelas terdiri atas 50 menit tatap muka, 60 menit tugas mandiri, dan 60 menit tugas terstruktur, sedang untuk perkuliahan di laboratorium atau lapangan setiap sks 170 menit. Tugas-tugas yang diberikan kepada mahasiswa dan penilaianya dituangkan dalam RPS juga. Tidak harus  semua tahapan perkuliahan dimuati wawasan konservasi, agar tidak terkesan dipaksakan. Dipilih materi dan waktu pertemuan yang tepat. Untuk beberapa matakuliah barangkali mengalami kesulitan dalam megimplementasikan wawasan konservasi, karena itulah RPS sebaiknya disusun oleh tim matakuliah dan didiskusikan dalam Kelompok Bidang Keahlian (KBK) masing masing yang ada di dalam Prodi.

Screen Shot 2017-01-23 at 8.47.46 AM

Nilai-nilai konservasi yang dikembangkan di UNNES adalah inspriratif, humanis, peduli, inovatif, kreatif, sportif, jujur, dan adil. Masing masing unit memberi penguatan terhadap salah satu nilai. FMIPA mengembangkan nilai inovatif. Setiap mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk inovatif sederhana sesuai kemampuan yang dimiliki. Misalnya, mahasiswa merancang, membuat, dan mempresentasikan suatu alat peraga model atom Bohr dari bahan limbah rumah tangga, dapat menjadi salah satu bentuk satu tahap perkuliahan Kimia Dasar atau Media Pembelajaran. Proses berinovasi yang terus diberikan sebagai pengalaman belajar yang bermakna di setiap matakuliah akan menjadi nilai inovatif yang tumbuh dalam diri mahasiswa.

Setiap program studi mengembangkan model/metode pembelajaran yang khas dan unggul. Di Jurusan Biologi FMIPA sudah dikenal model pembelajaran JAS (jelajah alam sekitar) yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar kelas, mengenali dan mengkaji flora dan fauna di sekitarnya sebagai bahan ajarnya menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Tidak mau ketinggalan, jurusan kimia mengembangkan chemoentrepeneurship, pembelajaran kewirausahaan berbasis kimia. Mahasiswa belajar membuat produk kimia berdasar konsep dan teori yang dipelajari. Dalam perkuliahan kimia dapat diinternalisasikan sikap peduli terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan dengan mengenalkan proses produksi pengolahan bahan alam yang menerapkan prinsip green chemistry. Misal, sintesis feromon derivat eugenol dengan bahan baku minyak cengkeh. Feromon yang dihasilkan dapat digunakan untuk menjebak lalat buah yang sering mengganggu tanaman buah hingga produktivitas atau hasil panennya menurun, bahkan gagal panen. Kajian materi ini disertai data hasil eksperimen dapat memotivasi mahasiswa dan memberikan kesadaran akan potensi sumberdaya alam Indonesia. Jurusan Matematika berinovasi dengan pembuatan alat peraga dengan berbagai bahan yang tersedia di lingkungan dalam matakuiah workshop alat peraga, bahkan sudah berkembang menjadi produk siap jual. Tersedianya alat alat portable canggih bisa menambah pengalaman mahasiswa mengenali lingkungan dan potensinya, seperti dilakukan pada matakuliah Fisika Bumi di Jurusan Fisika. Tentu masih banyak contoh sesuai kekhasan di setiap matakuliah yang diampu dosen.         

Implementasi wawasan konservasi dalam pembelajaran tidak mudah, tetapi harus bisa dilakukan.  Dosen memerlukan diskusi dan kerja bersama kolega dalam suatu tim matakuliah sejenis, kelompok bidang keahlian (KBK) dapat menjadi alternatif. KBK merupakan wadah bagi dosen dalam bidang keahlian yang sama. Bidang keahlian yang dimaksud ditetapkan oleh program studi/jurusan dalam forum jurusan untuk memberi ruang diskusi utamanya pengembangan matakuliah dan tema skripsi/tugas akhir.  Idealnya pada kelompok ini mengembangkan bahan kajian dan menetapkan matakuliah, bahan ajar, dan merancang evaluasi bersama, juga mengembangkan peta jalan penelitian yang dapat dijadikan acuan dosen atau mahasiswa dalam memilih tema penelitiannya. Hasil hasil penelitian dosen dan mahasiswa dapat menjadi bahan diskusi baik di KBK maupun dalam perkuliahan.

Prof. Dr. Edy Cahyono, M.Si.
Wakil Dekan Bidang Akademik
FMIPA UNNES

37 Comments

  1. Pencerahan yang bagus prof edi
    Semoga implementasi pembelajaran berbasis konservasi tidak menjadi angan angan belaka tetapi riil dpt dilaksanakan…insya Allah bisa dilakukan

    • Gagasan yang luar biasa Prof Edi. Ditunggu tulisan-tulisan inspiratif lainnya Prof. Sekedar sharing nggih prof. Kurikulum konservasi jika diterapkan pada prodi yang tidak berkaitan langsung dengan alam, kiranya memang sekilas tampak abstrak. Seperti prodi-prodi di Fakultas Ekonomi, prodi manajemen misalnya. Bagaimana tidak?, jika mata kuliah keprodian, literatur dan bahan ajar yang digunakan sama saja dengan prodi lain yang masih menerapkan kurikulum konvensional. Lalu apa yang menjadi ciri khusus kurikulum konservasi dan kurikulum konvensional pada umumnya. Kiranya, penerapan kurikulum konservasi tidak hanya fokus pada metode pembelajarannya saja, namun pada konten mata kuliah yang diajarkan. Sehingga ke depan bukan tidak mungkin akan terbit buku-buku fenomenal karya Pendidik Unnes seperti manajemen pemasaran hijau, manajemen keuangan hijau, manajemen investasi hijau, dan buku-buku literatur lainya yang bernuansa konservasi lainnya.
      Salam Konservasi

  2. Membaca gagasan Prof Edy Cahyono semakin meyakinkan saya bahwa penerapan wawasan konservasi dalam pembelajaran adalah nyata adanya bukan hanya sebatas wacana yang hanya ramai di ruang diskusi dan nol dalam implementasinya, Untuk lebih meyakinkan dan memberikan bentuk yang kongkrit bagaimana implementasi wawsan konservasi itu mewujud nyata dalam proses perkuliahan, ada baikya jika “good practices” implementasi wawasan konservasi yang telah dilakukan selama ini ditulis dan dipublikasikan untuk memberikan tambahan wawasan, gagasan, ide, dan kreativitas dalam penerapannya, sehingga memberikan warna yang semakin kuat bagi UNNES sebagai universitas berwawasan konservasi

  3. implementasi pembelajaran berwawasan konservasi dengan menanamkan nilai kreatif dan inovatif di dalamnya di jurusan PGPJSD sudah dilakukan juga prof. adalah mata kualiah permainan sederhana. dimana mahasiswa pada pertemuan kedua obeservasi di daerah mereka masing-masing. kemudian mahasiswa mencari jenis-jenis permainan tradisional yang ada di daerah masing-masing kemudian permainan tersebut dikemas dan dimodifikasi dalam suatu jenis permainan sederhana yang kemudian ditampilkan dalam proses perkuliahan

  4. Setuju terhadap gagasan prof. edy, terkait dengan visi konservasi yang dikembangkan dan diamanahkan oleh UNNES, di mata kuliah saya sekaligus fokus penelitian saya sangat erat sekali dengan roh konservasi tersebut. Pengembangan fungi endofit yang dapat menghasilkan senyawa obat merupakan salah satu bentuk konkrit perwujudan konservasi di UNNES, dimana senyawa aktif secara farmakologi ini dapat dihasilkan dalam jumlah besar tanpa menanam dan memanen tanaman obat yang notabene perlu waktu dan biaya yang besar.
    Semoga FMIPA selalu jadi pioner dalam pengembangan konservasi secara nyata dalam setiap suasana akademik
    Salam Konservasi

  5. Saya sangat tertarik dengan tulisan Prof Edi, khususnya nilai “humanis” sebagai bagian dari wawasan konservasi FBS UNNES. Izinkan saya berkomentar, menyampaikan gagasan dalam konteks paradigmatik. Menurut saya, pengembangan nilai humanis di perguruan tinggi perlu dimulai dari penegasan humanisme secara paradigmatik karena akan berimplikasi pada prinsip-prinsip dan implementasi pembelajarannya.

    Terlepas dari segala bentuk perkembangan humanisme sebagai sebuah Ideologi, humanisme sesungguhnya menawarkan gagasan mendasar yang menekankan pentingnya manusia dilihat sebagai indvidu yang bebas dan merdeka dengan segenap sifat-sifat kemanusiannya, yakni sebagai mahluk individual, sosial, dan kultural. Bukankan kehidupan haruslah dilakukan secara manusiawi dan diorientasikan untuk memanusiakan manusia dengan segala sifat-sifat kemanusiaannya itu? Dengan demikian, prinsip pelaksanaan pendidikan tinggi harus dapat membawa dan membina potensi-potensi individual, sosial, dan kultural subjek didik secara seimbang dan harmonis, menuju terbentuknya manusia yang kritis, sensitif, kreatif serta memiliki kesadaran dan tanggung jawab sebagai insan akademik dan anggota masyarakat yang menghargai dan/atau menjunjung nilai-nilai budaya masyarakatnya.

    Saya persempit nilai humanis sebagai ‘karakter humanistik’ yang bertujuan untuk membentuk manusia yang ‘bernilai’. Manusia bernilai menurut menyiratkan pada pribadi yang memiliki sifat-sifat/karakter sesuai ukuran keindahan dan moral, atau ukuran baik dan tidak baik. Di sini akhirnya mulai muncul banyak penafsiran tentang ukuran baik/buruk sesuai dengan otoritas kuasa dan pengetahuan.

    Menurut saya, perwujudan karakter humanistik di perguruan tinggi perlu direkonstruksi (menjadi humanisme wajah baru) dalam konteks tuntutan dan kebutuhan pendidikan tinggi saat ini, sehingga bukan sekadar theosentrisme yang berujung dehumanisme, atau bukan sekadar “kesantunan dan kesalihan” yang berpotensi mengebiri sikap akademik.

    Dalam konteks ini, perguruan tinggi di satu segi telah memiliki potensi sosio-budaya dan potensi akademik yang mumpuni dalam berbagai bidang ilmu oleh segenap sivitas akademika. Di segi lain, dalam pengembangan karakter humanistik di perguruan tinggi dapat berpedoman kepada etika akademik. Oleh sebab itu dalam mengimplementasikan nilai humanis dalam kehidupan kampus, setiap warga kampus (mahasiswa, dosen, karyawan, dan pengelola) juga perlu berpegang teguh dengan prinsip akademis yang diimplikasikan pada sikap-sikap ilmiah, diantaranya seperti kejujuran, obyektivitas, rasionalitas, terbuka, dan berpegang teguh kepada nilai-nilai kebenaran.

  6. Implementasi wawasan konservasi dalam pembelajaran memang sulit, terutama ketika menjabarkannya dalam cpl/cpmk, akan lebih baik kalau kata-kata pada nilai-nilai konservasi dicari beberapa padanan kata yang lain yang maksudnya sama dengan nilai-nilai tersebut.

  7. Implementasi wawasan konservasi dalam pembelajaran memang sulit, terutama ketika menjabarkannya dalam cpl/cpmk, akan lebih baik kalau setiap kata-kata nilai konservasi dapat dibuatkan padanan kata yang lain sehingga lebih mudah diterapkan dalam cpl/cpmk.

  8. Terima kasih Prof.Edy Cahyono karena tulisan ini mengingatkan saya akan pentingnya wawasan konservasi. Memang tidak mudah untuk mengimplementasikan wawasan konservasi dalam setiap mata kuliah karena tidak semua aktivitas dapat memasukkan wawasan konservasi. Namum meskipun begitu setidaknya wawasan konservasi ada dalam salah satu unsur pembelajaran sebagai penciri UNNES seperti dalam cpl,cpmk, materi,atau dalam penilaian. Harapan saya semoga wawasan konservasi khususnya nilai-nilai konservasi bukan hanya ada dalam perencanaan pembelajaran tetapi juga ada sebagai keteladanan karakter yang hadir dalam diri dosen yang tercermin dalam proses pembelajaran.Terima kasih

  9. Prof Edy, tadi kami mendengarkan pemaparan prof Edy di kelas pekerti mengenai pembelajaran berwawasan konservasi. dgn ditambah membaca kolom ini, menurut saya konsep wawasan konservasi dlm pembelajaran merupakan konsep yang baik sekali, dengan harapan 8 pilar konservasi dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran oleh dosen kepada mahasiswanya. seperti pertanyaan saya dalam kelas tadi, saya sbg dosen IKM yg ada di fakultas ilmu keolahragaan yg membawa konsep sportif merasa kesulitan memasukkan unsur sportif dlm mata kuliah epidemiologi penyakit. kalau saja bisa, mungkin akan lbh pas bagi kami utk memasukkan unsur humanis, atau mungkin kreatif dlm CPL/ CPMK. kira-kira bolehkah?

  10. Tulisan yang mencerahkan dan saya setuju Prof. Edy,
    Memang hal yang berhubungan dengan internet seperti website, social media tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa karena kemudahan aksesnya melalui gadget dan android. Interaksi dosen dan mahasiswa pun menjadi lebih mudah dan cepat dengan aplikasi WA, line, Instagram dsb.
    Saya mengajar bahasa Inggris bagi mahasiswa ekonomi dan semester kemarin saya mencoba mengaplikasikan pembelajaran blended learning melalui WA group. Mahasiswa atau dosen bisa saling share apapun baik issue, gambar, atau hal yang bisa menarik mahasiswa untuk meningkatkan ketrampilan menulisnya, menambah vocabularies dsb bahkan sampai saat ini ketika perkuliahan berakhir saya masih berinteraksi dengan mahasiswa saya melalui grup itu.
    Berkaitan dengan penanaman karakter wawasan konservasi, saya dan mahasiswa bisa saling share tentang motivasi, kebaikan, kejujuran dan bahkan masalah kehidupan…😅
    Semoga civitas Unnes selalu sehat, sukses dan bahagia.
    Salam hormat,

  11. prof Edy, konsep konservasi yg diintegrasikan dlm proses pembelajaran menurut saya sangat baik sekali. utk saya sebagai dosen IKM FIK UNNES dgn membawa pilar sportif, apakah boleh memasukkan pilar yg lain seperti kreatif/ humanis? krn utk memasukkan pilar sportif dlm mata kuliah epidemiologi penyakit dan dasar epid, takut kalau kesannya seperti memaksakan diri. mohon pencerahannya prof. salam konservasi.

  12. Membaca dan memahami gagasan Prof. Edy Cahyono memberikan inspirasi yang mendalam bagi saya sebagai dosen muda. Terutama dalam mengembangkan pendekatan, metode, model, strategi, dan taktik pembelajaran bagi mahasiswa yang berbasis KKNI dan Konservasi dan tentu saja dengan tetap memperhatikan perkembangan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini dalam rangka proses pembelajaran yang berorientasi pada “student-centered learning” (SCL).

    Memang kemudahan akses internet dan fasilitas yang memadai membuat mahasiswa lebih memanfaatkan kemudahan tersebut hanya untuk mendownload film-film seperti film korea dan game online. Hal tersebut tentu saja merugikan bagi mahasiswa lain yang sungguh memanfaatkan fasilitas internet untuk belajar karena kuota internetnya menjadi berkurang atau lambat. Belajar dari Kemkominfo RI yang mem-banned situs-situs yang dianggap tidak bermanfaat seperti situs yang bernuansa pornografi dan situs hoax, saya mempunyai usulan agar hal ini juga dapat dilakukan di Unnes untuk mem-banned situs-situs yang dianggap tidak bermanfaat bagi proses pendidikan namun hal tersebut perlu dilakukan kajian agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

    Kemudian, menanggapi tentang RPS dikerjakan secara bersama dalam Tim KBK saya setuju dengan gagasan tersebut. Dengan dikerjakan bersama mungkin akan membutuhkan waktu yang lama namun kemungkinan akan menghasilkan RPS yang berkualitas daripada hanya seorang dosen diberikan sebebas-bebasnya dalam membuat RPS. Semua pasti ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun demikian, ada hal yang harus diambil keputusan jika kita menginginkan hasil RPS yang berkualitas sesuai dengan apa yang kita harapkan. Seperti yang Prof Edy jelaskan dalam pelatihan PEKERTI, RPS harus mengandung penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif. Tiga komponen tersebut jika dimasukkan di dalam sebuah RPS tentulah tidak mudah belum lagi harus ada konsep tentang konservasi dan juga ditambah konsep dengan perkembangan teknologi. Ini sangat berat bagi seorang dosen dan hasilnya paling akan dihasilkan RPS yang apa adanya, yang hanya sesuai format, dan yang paling terpenting di-upload tepat waktu, selesai…:). Tentu hasil tersebut tidak kita inginkan. Bagi saya, banyak kepala lebih baik daripada hanya dikerjakan satu kepala. Sebuah team work (bukan pembagian kerja) akan menghasilkan hasil yang luar biasa daripada hanya kerja seorang individu yang hebat sekalipun. Jadi, Prof. saya sangat setuju sekali dengan gagasan tersebut yang “out of the box”.

    Terakhir Prof, saya menanggapi gagasan tentang pengembangan model atau metode pembelajaran yang khas dan unggul pada setiap program studi. Kekhasan dalam suatu bidang apapun itu yang akan menjadi ciri khas dan akan menjadi brand di masyarakat. Konsep konservasi kemungkinan sudah mendarah daging dalam setiap sanubari warga Unnes, masyarakat sudah mengerti betul tentang brand kita ini. Di bidang pendidikan tidak dipungkuri pastilah kita unggul dan masyarakat sudah tahu itu. Namun, Prof. jangan lupakan program studi lain seperti ilmu-ilmu non kependidikan. Tentu program tersebut butuh suatu brand yang bisa “menjual” di masyarakat agar lulusan-lulusan kita dapat bersaing di dunia kerja khususnya dunia industri. Sudah cukup “brilliant” konsep JAS di biologi dan Chemoentrepeneurship di kimia, namun itu saja tidak cukup Prof. agar lulusan kita berdaya saing di dunia industri. Saya mempunyai usulan jika ditambah konsep tentang model pembelajaran yang berbasis industri agar program studi ilmu non kependidikan yang bermuara ke industri. Saya berharap, agar matakuliah-matakuliah non kependidikan berorientasi terhadap industri. Hal ini semata-mata agar lulusan kita tidak gagap di dunia industri.

    Semoga Unnes dapat mengimpletasikan gagasan Prof. Edy Cahyono, tidak harus semua sekaligus mungkin, namun paling tidak secara bertahap ada komitmen ke arah itu. “Amazing” dengan gagasan Prof. Edy Cahyono yang “out of the box” dalam bingkai konservasi.

    Salam Konservasi

  13. Wawasan konservasi dalam pembelajaran pada intinya bisa diimplementasikan di semua disiplin ilmu sesuai dengan nilai-nilai konservasi yang dikembangkan di Unnes sebagai karakteristik dari tiap fakultas. Sangat inspiratif Prof Edy. Di FBS, humanis senyatanya juga telah terimplementasi pada konservasi budaya (bahasa) maupun seni, khususnya kearifan budaya lokal. Semoga dapat menggugah para dosen untuk makin mengembangkan wawasan konservasi dalam pembelajaran di penyusunan RPS nanti sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing….

  14. Terima kasih Prof Edy Cahyono. Dalam mendukung terwujudnya visi UNNES, memasukkan nilai konservasi ke dalam RPS merupakan salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik di UNNES. Tentu saja, yang menjadi harapan kita semua, nilai konservasi yang dituangkan ke dalam RPS tersebut tidak hanya berhenti disitu saja, tetapi benar-benar diaplikasikan di dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, nilai-nilai konservasi tersebut teraktualisasi ke dalam jiwa mahasiswa sehingga harapannya, akan menjadi kebiasaan baik yang selalu dilakukan untuk seterusnya.

  15. Mantap prof,,Wawasan konservasi menjadi roh dalam menginspirasi mahasiswa dan dosen untuk terus berkarya, dimana karya tersebut dapat mewujudkan pergaulan hidup yang lebih baik bagi setiap insan yang memiliki kepedulian, terus berinovasi adalah salah satu cara agar segala permasalah dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat, kreatifitas menjadi daya tarik agar tindakan sportif bisa membudaya disemua kalangan, didukung oleh perilaku jujur dalam upaya mewujudkan keadilan bagi seluruh makhluk yang ada di bumi.

  16. Konsep wawasan konservasi dalam pembelajaran sesuai dengan kondisi terkini. Akan tetapi dibutuhkan pemahaman mendalam dan hati legowo dalam menerima hal-hal baru agar tidak terjadi tumpang tindih atau kesalahpemahaman. Pembelajaran dengan wawasan konservasi sesuai dengan berbagai mata perkuliahan misalkan saja pada perkuliahan Analisis Laporan Keuangan yang menuntut mahasiwa untuk mampu menganalisis annual report perusahaan yang terdiri dari 300 halaman. Bisa dibayangkan bila tidak memegang teguh prinsip wawasan konservasi (paperless policy) maka berapa banyak jumlah kertas yang terbuang hanya untuk mencetak annual report perusahaan, 300 lembar x 60 mahasiswa = 18000 lembar (36 rim), artinya butuh 5 batang pohon dengan usia 5 tahun.
    Oleh karena itu dalam penyusunan RPS pada komponen Metode Penugasan selalu mengedepankan “paperless policy”. Serta tak lupa menambahkan nilai kejujuran didalam setiap penugasan agar mahasiswa terhindar dari plagiarism.
    Semoga wawasan konservasi dalam pembelajaran dapat terus diterapkan 🙂

  17. “Kalau ada kemauan pasti ada jalan”, integrasi wawasan konservasi dalam pembelajaran yang saya pahami yaitu memadukan nilai-nilai konservasi sebagai cara pandang dalam memahami, mensikapi, dan mengasah keterampilan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan (problem solving)melalui kegiatan pembelajaran. Makna “cara pandang” memberikan keluasan interpretasi penerapan nilai-nilai konservasi yang dikembangkan di Unnes tidak hanya dalam batas makna nilai-nilai tersebut, namun juga penerapan/kegiatannya. Sebagai misal perkuliahan yang mengintegrasikan nilai inovatif di salah satu mata kuliah jurusan IPA terpadu, etnosins misalnya kata inovatif dimunculkan dalam CPMK ataupun sub CPMK yang pada perkuliahan memang tidak selalu menghasilkan produk yang punya nilai kebaruan, namun kegiatannya telah menggunakan cara pandang yang inovatif yang juga dapat diamati. Semangat mengintegrasikan wawasan konservasi dalam pembelajaran!

  18. Prof. Artikelnya informatif dan menarik
    Tapi saya ada satu pertanyaan prof. Ada pengetahuan atau ilmu yang memang sifatnya “di balik meja”. pengembangannya pun memang teoretik. Dan karakter perkuliahannya memang mengharuskan “teacher base”. Apakah jika seperti itu metode pembelajaran harus disampaikan se interaktif mungkin?

  19. Membaca gagasan Prof Edy Cahyono mengenai implementasi wawasan konservasi dalam beberapa pembelajaran memang bisa dipahami,tetapi ada beberapa pembelajaran khususnya di Ilmu Kesehatan Masyarakat, di mana kita di bawah Fakultas Ilmu Keolahragaan yang nilai konservasinya adalah sportif, sangat sulit bagi kami untuk menginplementasikan dg nilai sportifnya. Contoh kasus misalnya mata kuliah mengenai epidemiologi penyakit non menular, epidemiologi penyakit menular, parasitologi. Mungkin Prof Edy bisa memberikan tambahan wawasan bagi kami bagaimana untuk mengimplementasiknan wawasan konservasi dengan ilmu kesehatan masyarakt. Terimakasih

  20. Tulisan yg inspiratif dan update Bapak.
    Perkembangan teknologi di dunia global menuntut setiap orang untuk selalu mengikuti perkembangan jaman, tidak terkecuali mahasiswa. Gadget sebagai salah satu media bagi mahasiswa untuk selalu update segala informasi membawa dampak positif dan negatif. Universitas sebagai rumah ke-dua bagi mahasiswa bertanggung jawab membentengi mahasiswa untuk tidak terbawa arus negatif dari dunia teknologi. Integrasi konservasi dalam kurikulum merupakan langkah yang tepat untuk melindungi mahasiswa kita. Sebagai dosen kita harus mendukung program universitas untuk selalu membudayakan nilai-nilai konservasi, tidak hanya tertulis dalam perangkat pembelajaran akan tetapi juga senantiasa kita sampaikan pada saat proses perkuliahan. Kualitas lulusan kita adalah tanggung jawab kita bersama.

    Kita dukung unnes menjadi universitas yang berwawasan konservasi dan bereputasi internasional. Salam konservasi.

  21. Terima kasih pencerahannya Prof. Menambah wawasan saya mengenai implementasi konservasi dalam perkuliahan. Selama ini saya hanya menyisipkan humanis dalam perkuliahan, sehingga hanya memperhalus karakter mhs, dan belum menghasilkan produk seperti halnya perkuliahan di MIPA. Namun bila merujuk pada apa yg Prof sampaikan dalam pelatihan, bahwa penerapan konservasi boleh menyentuh nilai konservasi dari fakultas lain seperti inspiratif, peduli,inovatif, kreatif, sportif, jujur, dan adil, maka mudah-mudahan ke depannya implementasi konservasi dalam perkuliahan dapat menjadi lebih nyata. Tidak hanya mengukuhkan karakter mhs dg nilai hmanis tetapi juga dapat menghasikan produk inovasi pendidikan.

  22. Gagasan Prof Edy Cahyono sebenarnya sudah di implementasikan dalam hal “practice”nya. Namun terkadang dalam menuangkan tulisan kedalam RPS sulit diterapkan, sehingga harapannya KBK di masing-masing Jurusan lebih intensif lagi mengkaji bidang keilmuannya yang diintegrasikan dengan karakter konservasi. pada akhirnya, dengan adanya gagasan yang bermanfaat dari Prof Edy ini membawa UNNES semakin maju.

  23. Sangat inspiratif dengan apa yang dituliskan oleh Prof Edy bagaimana teman-teman dosen di kimia mengiplementasikan konsep dan wawasan konservasi dalam proses pembelajaran. Mungkin perlu diperhatikan bahwa penerapan aplikasi konsep dan wawasan konservasi tidak hanya bisa dilakukan dalam perujudan produk atau mata kuliah sebagaimana teman-teman kimia, khususnya bagi prodi-prodi yang memang cenderung dalam ranah sosial dan psikologi. Aplikasi nilai konservasi juga dapat diwujudkan melalui pembelajaran nilai kehidupan dalam proses perkuliahan itu sendiri. Community-based learning (CBL) bisa menjadi salah satu solusi yang saya amati.

    Sebelumnya mohon maaf jika apa yang saya pahami salah. Apa yang saya pahami tentang CBL merupakan pendekatan pedagogis yang didasarkan pada premis bahwa pembelajaran yang paling mendalam sering datang dari pengalaman yang didukung sebuah bimbingan (pendampingan), pengetahuan dasar, dan kesempatan analisis didasarkan kemampuan intelektual dengan atau bersama kelompok/komunitas pendukung pembelajaran. Melalui pembelajaran semacam ini siswa dapat menggunakan pengetahuan yang dimiliki dan disertai ide-ide berdasarkan pengamatan pribadi. Disisi lain interaksi sosial dengan tema pembelajaran dan argumen ilmiah menjadikan kedalaman materi serta pengalaman belajar tersendiri bagi individu. Komunitas dalam hal ini adalah bagian yang dapat menjadi sumber dan kesempatan belajar yang luas baik sumber daya dosen dan mahasiswa, intutisi atau lembaga lain yang sesuai dengan konten, penyedia literatur, masyarakat secara luas, sumber daya alam dan lain sebagainya. Melalui metode ini tentunya mahasiswa diharapkan secara tidak langsung dapat menumbuh kembangkan nilai-nilai konservasi dalam pribadinya utamanya nilai inspiratif, humanif, peduli, inovatif, kritis dan kreatif dan nilai lainnya.

  24. Pengintegrasian konsep dan wawasan konservasi pada kurikulum pendidikan di Unnes memang suatu ide yang bagus. Dengan cara tersebut maka diharapkan mahasiswa akan mempunyai kepekaan yang relative lebih baik dalam hubungannya dengan Alam maupun dengan makhluk lain. Sehingga akan terwujud usaha yang kreatif dan innovative dari mahasiswa dalam peran dan andilnya untuk melestarikan alam. Peran mahasiswa tersebut tentunya harus diwujudkan dalam ide-ide yang positif dan tindakan yang riil sebagai suatu realisasi dari konsep dan wawasan konservasi yang telah tertuang di dalam kurikulum, seperti bagaimana mengimplementasikan slogan 3R (Reuse, Reduce and Recycle). Namun demikian agar hal ini dapat berlangsung secara berkelanjutan, maka pada diri dosen juga harus menunjukkan sikap-sikap atau tindakan yang riil yang mencerminkan prinsip-prinsip dan asas konservasi. Sudahkah kita menunjukkan hal-hal yang dianggap sepele, yang sebenarnya merupakan suatu tindakan yang bisa dijadikan sebagai perwujudan riil dari asas dan prinsip konservasi. Sebagai contoh, menyalakan lampu seperlunya dan mematikan jika tidak diperlukan, menggunakan air seperlunya, membuang sampah sesuai pada tempatnya, bertegur sapa dan mengucapkan salam jika bertemu, dan lain-lain. Jika hal-hal kecil tersebut dapat dilaksanakan, maka niscaya tujuan pengintegrasian asas dan prinsip konservasi akan dapat terwujud. Jadi keberhasilan pencanangan Unnes sebagai universitas konservasi tidak bisa hanya mengintegrasikan konsep dan wawasan konservasi pada kurikulum, tapi juga seluruh civitas akademika Unnes harus dapat mewujudkan tindakan nyata sebagai perwujudan dari prinsip-prinsip konservasi yang sudah dicanangkan,sehingga tidak sededar slogan belaka.

  25. Cukup ada pencerahan bagaimana wawasan konservasi dalam pembelajaran.
    Namun, pada awalnya sulit bagaimana menerapkan dalam pembelajaran, karena belum ada buku panduan, bagaimana parameternya dan bagaimana penilaiannya.

    Alhamdulillah, di FMIPA sudah ada Buku Panduan Karakter Inovatif Penguat Konservasi, edisi Maret 2016.

    Buku tersebut salah satunya membahas Karakter Inovatif dalam Pendidikan dan Pengajaran. Perlu kiranya buku tersebut dipublikasikan/diunggah secara online agar dapat menjadi panduan khususnya bagi dosen baik dalam pengajaran, penelitian maupun pengabdian.

  26. Salam Pak Edy, semoga sehat-sehat selalu. Menurut hemat saya pengertian konservasi sangat luas. Nilai-nilai konservasi yang dipilih dan disematkan pada fakultas-fakultas, seperti inspiratif, sportif, inovatif, dan lainnya perlu dipahami sebagai penyemangat simbolik saja. Karena sejatinya nilai-nilai konservasi sangat banyak, tidak hanya itu saja. Pun tiap mahasiswa dari beragam fakultas juga sudah semestinya memiliki semua nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai tersebut pun hendaknya jangan dijadikan sebagai ukuran berhasil tidaknya visi konservasi universitas. Karena di FIP misalnya agak repot menilai seseorang sudah ‘inspiratif’ atau belum. Tidak perlu juga dipaksakan nilai-nilai tersebut masuk dalam semua bahan kajian mata kuliah-mata kuliah. Walau begitu, semangat konservasi penting dipelajari mengingat kondisi kritis global memang perlu direspons oleh perguran tinggi. Pribadi pendidik yang sadar dan cinta lingkungan memang diperlukan.

  27. Gagasan yang disampaikan oleh Prof. Edy Cahyono pada dasarnya sangat baik, karena hal ini sangat sejalan dengan Visi unnes. Akan tetapi bila ditilik lebih detil pada visi dan misi fakultas yang diberi amanah untuk menjadi perpanjangan tangan dari tingkat universitas, implementasinya agak sulit.
    Hal ini disebabkan karena tidak semua program studi dapat diterapkan nilai konservasi fakultas secara benar. Artinya beberapa program studi kurang sejalan dengan nilai konservasi yang disematkan, akibatnya terkesan dipaksakan pada deskripsi mata kuliah dan turunannya.
    Permasalahan ini bila dirunut lebih lanjut disebabkan oleh kurikulum yang disusun sebelumnya belum dihubungkan pada nilai konservasi. Solusinya adalah review kurikulum terhadap nilai konservasi. Hal ini cukup strategis, karena KEMRISTEKDIKTI sedang menggalakkan kesetaraan kurikulum dengan SKKNI untuk menyambut MEA.
    Kerjasama dengan LPK profesi sangat dibutuhkan untuk mengawal kurikulum yang sesuai dengan SKKNI dan wawasan konservasi UNNES. Semoga dimasa mendatang UNNES mampu berperan dalam pembangunan Indonesia yang berwawasan konservasi melalui lulusan-lulusan unggulnya.

  28. Menyimak tulisan Prof. Edi membuka mata kita sebagai pengajar bahwa wawasan konservasi memang tidak mustahil diterapkan di mata kuliah berbagai prodi. Jika pada gagasan diatas, setiap program studi di FMIPA sudah mengembangkan model/metode pembelajaran yang khas dan unggul, di Prodi tempat saya mengajar (PJKR/FIK) juga sama halnya. Dimana Proses pembelajaran pendidikan jasmani dikemas dengan tujuan utama mengajarkan pendidikan melalui aktifitas jasmani dengan memanfaatkan alam dalam proses pembelajarannya.
    Mengajarkan nilai-nilai sportifitas di alam terbuka Unnes dalam proses perkuliahan, dapat diterapkan di berbagai mata kuliah untuk membekali mahasiswa untuk siap terjun di masyarakat ketika kembali untuk mengabdi di masyarakat.
    Dan tentunya nilai-nilai ini juga dapat diterapkan di berbagai mata kuliah di semua prodi di Unnes.

  29. Tulisan yang sangat menginspirasi saya. Semoga bisa mengimplementasikan nilai-nilai konservasi baik dalam pembelajaran pada tiap2 mata kuliah ataupun di lingkungan.

  30. Implementasi wawasan konservasi dalam ilmu psikologi sejalan dengan usaha yang sedang kami lakukan dalam membangun unit studi psikologi konservasi di jurusan psikologi unnes. Jurusan Psikologi Unnes memiliki impian menjadi pusat dari perkembangan ilmu psikologi konservasi di Indonesia melalui pemilihan topik penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen ataupun mahasiswa yang mengarah pada tema psikologi konservasi

  31. Setelah membaca tulisan Prof Edy tentang wawasan konservasi dalam pembelajaran, membuat saya semakin termotivasi untuk berupaya mengimplementasikan dengan sebaik-baiknya. Delapan nilai konservasi yang dikembangkan Unnes yaitu inspiratif, humanis, peduli, inovatif, kreatif, sportif, jujur, adil merupakan nilai-nilai karakter yang sangat baik. FIK (Fakultas Ilmu Keolahragaan) menjadi fakultas yang diharapkan dapat memberi penguatan pada nilai konservasi “sportif”, yang memang sangat cocok atau sesuai dengan kekhasan dan keunggulan FIK. Namun, saya yang mengajar di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) FIK Unnes, terkadang merasa kesulitan untuk dapat mengimplementasikan nilai konservasi sportif di dalam pembelajaran, tidak mudah memunculkan konsep sportif dalam penyusunan RPS pada beberapa mata kuliah kesehatan masyarakat termasuk bidang peminatan gizi masyarakat. Namun, menurut saya meskipun masing-masing nilai konservasi tersebut melekat pada masing-masing fakultas (FIP inspiratif, FBS humanis, FIS peduli, FMIPA inovatif, FT kreatif, FIK sportif, FE jujur, FH adil), tentu tidak kemudian menjadi terkotak-kotak, artinya setiap fakultas juga dapat mengembangkan nilai-nilai konservasi yang lainnya. Bagi kami dosen di jurusan IKM FIK Unnes, yang tidak mudah menerapkan nilai konservasi sportif pada beberapa mata kuliah, menurut saya tentu boleh mengembangkan dan menerapkan nilai konservasi lain yang lebih sesuai dengan karakteristik mata kuliah atau materi yang diajarkan. Yang terpenting adalah kita semua warga Unnes dapat bersinergi mewujudkan nilai-nilai konservasi sebagai komitmen kita bersama. Salam konservasi.

  32. Terimakasih Prof Edy Cahyono atas pemikiran tentang wawasan konservasi dalam pembelajaran ini. Memang benar dunia pendidikan sekarang sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam bidang teknologi. Sehingga, menuntut kita lebih kreatif dan tidak berpusat pada proses pembelajaran yang telah kita dapat dahulu, yaitu pembelajaran bersifat konvensional. Setiap dosen harus mampu mengaplikasikan nilai-nilai konservasi dalam setiap kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam setiap pembelajaran, mahasiswa dapat menerapkan nilai tersebut bagi dirinya dan dalam kegiatan mereka di lapangan (seperti kegiatan magang, PPL, dunia kerja, dsb). Sehingga nilai-nilai tersebut dapat dikenalkan dan diterapkan dalam setiap pembelajaran pada anak usia dini sejak dini.
    Salam konservasi.

  33. Sebuah gagasan yang bagus Prof, dimana nilai-nilai konservasi itu memang penting dikembangkan dan diterapkan, tidak hanya untuk lingkungan fisik namun bagi lingkungan sosial dan budaya. Sekedar sharing saja, dewasa ini tidak sedikit lulusan-lulusan dari perguruan tinggi yang memiliki keilmuan dan keterampilan yang mumpuni namun kurang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Sehingga diharapkan dengan penanaman nilai-nilai konservasi di setiap mata kuliah yang diajarkan di Unnes diharapkan lulusan yang dihasilkan memiliki nilai lebih untuk berkompetisi dengan lulusan dari PT lain, tentunya juga diimbangi dari aspek keilmuan dan keterampilan juga memiliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × four =