WILLY TIRZA EDEN, S. Farm., M. Sc.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Indonesia sendiri termasuk daerah endemis penyakit DBD. Terdapat pola peningkatan kasus DBD setiap tiga tahun sekali dalam satu dekade terakhir, yaitu pada tahun 2010, 2013, dan 2016 (Yuningsih, 2019). Trend penyakit DBD di Indonesia tergolong fluktuatif, namun memiliki kecenderungan untuk meningkat. Tahun 2019 jumlah kasus DBD mencapai 112.954 dan menyebabkan 751 orang meninggal dunia (Kemenkes RI, 2020). Penyakit DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti (Linn.). Selain DBD, Aedes aegypti merupakan penyebab utama demam berdarah (dengue fever), demam kuning (yellow fever) dan demam Chikungunya (Weetman dkk, 2018). Nyamuk juga merupakan vektor dari berbagai penyakit lainnya, seperti nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria dan Anophelini sebagai vektor filariasis (Andyana dkk, 2019). Posisi geografis Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan vektor penyakit mudah berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa metode pengatasan nyamuk sebagai vektor penyakit merupakan hal yang mendesakuntuk dilakukan.

Salah satu strategi untuk mengendalikan vektor nyamuk yang menyebabkan penyakit selama ini bertumpu pada penggunaan insektisida kimia, khususnya insektisida jenis penolak nyamuk (mosquito repellent) dari bahan kimia. Walaupun, penolak kimia (chemical repellent) dianggap berguna mengurangi dan mencegah penyebaran penyakit oleh vektor nyamuk (Paluch dkk, 2010). Namun, penolak kimia ternyata tidak aman untuk manusia, terutama untuk anak-anak karena dapat mengakibatkan iritasi dan alergi pada kulit, seperti DEET (N,N-diethyl-3-methylbenzamide) dan IR3535 (ethyl butylacetyl aminopropionate) yang tidak aman untuk anak-anak karena dapat menyebabkan encephalopathy (kelainan fungsi otak) (McHenry & Lacuesta, 2014; Diaz, 2016). Selain itu, DEET ternyata dapat menyebabkan kerusakan pada plastik dan material sintetik lainnya (Ho dkk, 2019).

Penelitian oleh Eden, dkk (2020) membahas tentang penggunaan penolak nyamuk berbahan alami yaitu minyak sereh wangi (Cymbopogon winterianus, atau Java citronella). Tanaman sereh wangi merupakan tanaman yang tumbuh melimpah di daerah Jawa, terutama Jawa Tengah, sehingga sering disebut sebagai Java citronella (Balittro, 2010). Tanaman Cymbopogon winterianus sendiri berasal dari daerah subtropis di Asia, India, dan Indonesia. Sereh sudah sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia sebagai bumbu dapur dan campuran untuk minuman kesehatan. Masyarakat biasanya memanfaatkan bagian batangnya untuk digunakan langsung atau diproses melalui penyulingan/destilasi untuk mendapatkan minyak sereh. Minyak sereh wangi digunakan secara tradisional oleh masyarakat biasanya dengan meremas batang sereh dan langsung digosokkan di kulit atau dicampurkan dengan minyak kelapa. Minyak atsiri dari keluarga tanaman Cymbopogon telah banyak beredar di pasaran dan mempunyai aktivitas penolak nyamuk terhadap Aedes albopictus, Anopheles arabiensis, Culex quinquefasciatus, dan Anopheles dirus (Eden dkk, 2018; Govere dkk, 2000; Tawatsin dkk, 2001). Minyak sereh wangi telah terdaftar di US-EPA (Badan Perlindungan Lingkungan di Amerika Serikat) sebagai penolak nyamuk yang efektif dan aman. Minyak sereh terbukti memiliki toksisitas rendah pada hewan uji (Sharma dkk, 2019).

Minyak sereh mempunyai tiga komponen utama yang berpotensi sebagai penolak nyamuk, yaitu senyawa Citronellal, Citronellol, dan Geraniol (Wany, 2013). Senyawa Citronellal merupakan senyawa yang bertanggung jawab atas karakteristik aroma dari minyak sereh. Geraniol merupakan komponen utama dari geranium oil yang dihasilkan dari tanaman Pelargonium reniforme. Geranium oil sudah dikenal sebagai penolak nyamuk yang beredar di pasar internasional. Rhodinol merupakan gabungan antara citronellol dan geraniol yang teruji juga sebagai penolak nyamuk dan digunakan sebagai komponen produk minyak telon di Indonesia (Chong dkk, 2014). Geraniol dan Citronellol merupakan senyawa yang bertanggung jawab untuk karakter aroma mawar dalam minyak serai wangi. Penggunaan minyak atsiri/essential oil sendiri mulai dilirik sebagai alternatif pengganti penolak nyamuk yang berbahan kimia, karena aman digunakan oleh manusia dan bersifat ramah lingkungan. Minyak atsiri secara alami bersifat volatil atau mudah menguap dan terdiri dari senyawa komplek dengan bau yang kuat. Senyawa komplek tersebut sebagian besar tersusun dari senyawa terpenoid dan senyawa aromatik seperti fenilpropanoid yang terkandung dalam berbagai jenis tanaman (Ebadollahi dkk, 2020).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Eden, dkk (2020) tersebut, dibuat suatu formulasi gel pengharum ruangan yang berbahan dasar minyak sereh. Pembuatan produk gel pengharum ruangan sendiri bertujuan supaya kandungan Citronellal, Citronellol, dan Geraniol dapat menguap dan terlepas ke udara, serta berfungsi sebagai pengusir nyamuk Aedes aegypti baik di dalam ruangan, maupun di dalam mobil. Selain itu, gel tersebut diklaim dapat memberikan aroma wangi dan segar serta mengusir bau yang tidak enak. Minyak sereh diperoleh dari batang sereh dengan cara destilasi fraksinasi/penyulingan bertingkat. Minyak sereh yang diperoleh berwarna kuning pucat. Gel berbasis minyak sereh tersebut dibuat menggunakan bahan-bahan berupa minyak sereh wangi, karagenan, gum, natrium benzoat, etilen glikol, polysorbate 20, natrium klorida, dan air. Hasilnya menunjukkan formula gel yang paling optimal mempunyai waktu simpan hingga 17 hari. Aktivitas kandungan Citronellal, Citronellol, dan Geraniol sebagai penolak nyamuk Aedes aegypti sendiri mencapai 78%. Selain sebagai penolak nyamuk, minyak sereh juga mempunyai segudang manfaat lain seperti antiseptik, antispasmodik (anti kejang otot), febrifuge (mengatasi demam), dan diuretik (meningkatkan pengeluaran urin bagi penderita hipertensi) (Lawless, 2002). Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas yang potensial untuk dikembangkan karena sumber tanaman obat yang melimpah di Indonesia. Minyak sereh wangi adalah salah satu komoditas yang prospektif di antara 12 jenis minyak atsiri yang diekspor oleh Indonesia. Data ekspor BPS menunjukkan bahwa kontribusi minyak sereh wangi terhadap pendapatan ekspor minyak atsiri sebesar 6,89%, ketiga terbesar setelah minyak nilam (patchouli oil) dan minyak akar wangi (vetiver oil) (Sulaswatty dkk, 2019). Menilik dari manfaatnya yang besar dan ketersediaannya yang melimpah, diharapkan melalui penelitian-penelitian yang melibatkan minyak atsiri, potensi minyak sereh wangi di Indonesia dapat semakin berkembang.

WILLY TIRZA EDEN, S. Farm., M. Sc. adalah dosen Jurusan Kimia yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi S1 Farmasi Jurusan Kimia. Sejumlah penelitian yang dihasilkannya telah dipublikasikannya baik di jurnal nasional maupun jurnal internasional bereputasi. Saat ini penulis aktif sebagai  anggota di beberapa organisasi profesi.

Avatar

Dosen Sistem Informasi, Gugus Humas dan IT FMIPA UNNES

Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *