Prof. Dr. Sarwi, M.Si.
Profesor Bidang Ilmu Pendidikan Fisika FMIPA UNNES

Pengantar

Pendidikan di Indonesia masih memerlukan pembangkitan dan perjuangan untuk  mengejar ketertinggalan dari negara lain yang telah maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi digital telah berkembang pesat memasuki era society 5.0. Perkembangan Ipteks telah berdampak pada tuntutan yang harus dilakukan masyarakat untuk mengikuti perubahan zaman yang berlangsung secara revolusioner. Hakekat perubahan masyarakat memerlukan pengetahuan baru, keterampilan baru, dan tanggungjawab  substansial terhadap nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.  Pemenuhan keperluan pengetahuan dan kecakapan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan.

Pendidikan yang berkualitas dan holistik membekalkan kepada peserta didik tentang ilmu yang mencakup berbagai bidang dan multiskills. Integrasi ilmu tidak hanya sekedar menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum saja, akan tetapi integrasi ilmu merupakan sebuah upaya untuk menyatukan ilmu agama yang bersumber dari wahyu dan ilmu umum sebagai temuan hasil penelitian/pemikiran manusia. Integrasi ilmu tersebut harus dengan prinsip tidak mengecilkan keagungan wahyu dan tidak mengucilkan manusia sebagai ciptaan Allah SWT. Tujuan integrasi berbagai ilmu agar dapat meminimalkan pandangan dikotomi ilmu yang dipahami dan dicapai para sarjana. Dampak positif  bagi institusi menghasilkan alumni yang kaya nilai moral dan religious sehingga menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam aspek intelektual, budi pekerti, keterampilan, dan spiritual. 

Integrasi Karakter dan Nilai Agama

Pendidikan yang diperlukan pada masa sekarang adalah Lembaga Pendidikan yang menyelenggarakan karakter terpuji untuk mengembangkan potensi positif peserta didik, baik Pendidikan Dasar dan Menengah, maupun Pendidikan Tinggi. Penyempitan pandangan tentang pendidikan yang hanya membekali ranah intelektual dan keterampilan pisik, menunjukkan ketidakmampuan menyentuh ranah sikap dan spiritual. Pemisahan antara hal-hal yang dianggap religi dan bukan religi, urusan yang sakral dan profan, yang ukhrowi dan duniawi, ini dikenal cara pandang dikotomis.

Masalah yang lebih fundamental adalah pandangan yang masih melekat pada generasi muda bahwa ilmu keagamaan dan ilmu umum merupakan dua hal yang terpisah (fragmented) perlu dibangun ulang. Aliran yang berpandangan mengenai urusan keagamaan dan non agama (umum) secara terpisah (dikotomis) disebut sekularisme. Sistem pendidikan yang dikotomis belum memberi solusi atas kebutuhan pendidikan yang komprehensif untuk mencapai insan kamil (paripurna). Istilah integrasi muncul pada bidang pendidikan diharapkan dapat memberi solusi atas kegalauan dan masalah pendidikan yang bersifat parsial dan terpisah tersebut. Integrasi dapat diartikan pembauran menjadi satu kesatuan yang utuh. Integrasi karakter dan nilai  islami pada bidang pendidikan bermakna pembauran karakter dan nilai-nilai agama (islam) ke dalam ilmu atau mata pelajaran (subject matter) menjadi bangunan ilmu yang utuh dalam diri peserta didik. 

Pengkajian mendalam tentang konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al Quran akan mengarah pada penemuan etos yang melandasi pengembangan ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, ilmu pasti alam, kebudayaan, dan keagamaan. Basis filosofis pengembangan ilmu disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Basis filosofis Pengembangan Ilmu

Filsafat Islami dan Filsafat Ilmu

Interaksi antara filsafat dan ilmu menghasilkan filsafat ilmu (philosophy of science), yakni filsafat yang menjadikan ilmu sebagai objek materia.  Interaksi antara islam dan filsafat ilmu menghasilkan filsafat islami tentang ilmu (Islamic Philosophy of Science). Filsafat islami bertitik tolak dari Din al-Islam yang berakarkan ‘Aqidah Islam, yang berintikan pada at-Tauhid.  Tuhan telah mewujudkan kebesaran dan keagunganNya melalui ayat-ayatNya, yaitu ayat Kauniyyah (the works of Alloh) mencakup manusia dan alam semesta dan ayat Qur’aniyyah (the words of Alloh) yaitu ayat Alloh yang tersurat dalam Al Quran Al Karim.  Studi ayat-ayat kauniyyah dan studi ayat-ayat Qur’aniyyah merupakan ibadah dalam arti luas (amal saleh), asal dilaksanakan secara saleh dan ikhlas untuk mencari ridla Alloh.

Interaksi antara filsafat islami dan sains yang berlandaskan Al Quran dan Al Hadits menghasilkan sains islami (islamical science). Ciri sains islami yaitu  sains yang bertumpu pada ke-Tauhid-an Alloh (sains yang menghadirkan kuasa Alloh, Maha Mengetahui), yang berisi nilai Din al-Islam.  Sejalan dengan pernyataan teori sains islami adalah sains teistik (theistic science) yakni sains yang memadukan kerja ilmiah (fisis) dan metafisika dengan teologi.  Sains islami dapat dihasilkan dan atau ditemukan oleh ilmuwan yang belatar belakang berbagai kepercayaan atau agama di dunia yang berlandaskan kandungan Al Quran dan Al Hadits. Dalam Kitab Suci Al Quran sudah mengabarkan pada 1400 tahun yang lalu bahwa phenomena alam yang ada di lautan menunjukkan sains teistik disajikan pada Gambar2.  

Gambar 2. Selat Gibraltar adalah pertemuan dua jenis air laut yang berbeda (masa jenis, kadar garamnya), selalu bertemu tidak menyatu.

Artinya: Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilewati oleh masing-masing. Maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya, keluar mutiara dan marjan (Q.S. Ar Rahman, 55: 19-22).

Integrasi Karakter Islami pada Bidang Pendidikan

Berdasarkan analisis hasil penelusuran literatur  dan sejumlah penelitian, dihasilkan sistem penyelenggaraan pendidikan bermuatan nilai-nilai agama Islam yaitu Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT). LPIT melahirkan Sekolah Islam Terpadu (SIT) dengan sistem full day school  merupakan salah satu alternatif solusi dari keresahan masyarakat yang menginginkan lembaga yang mengamalkan nilai-nilai islam. Kurikulum yang diterapkan terdiri atas sejumlah mata pelajaran bercorak umum dan sebagian pelajaran bercorak keagamaan secara proporsional. Kompetensi yang dicanangkan pada kurikulum terpadu adalah penguasaan ilmu kauniyyah (alam, sosial), qauliyyah (agama), fikriyyah (kognitif), ruhiyyah (afektif), jasadiyyah (psikomotorik). Pendidikan yang menerapkan sistem full time school memiliki keunggulan diantaranya: a) memperoleh pengalaman belajar dan beribadah yang teratur, dan b) mendapat pengalaman kedisiplinan dan kemandirian yang tinggi. Penerapan full time school dimaksudkan bahwa pemanfaatan waktu bagi peserta didik lebih efektif, baik untuk belajar, beribadah, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama guru atau ustadz.

Pengintegrasian Karakter yang “Membumi” bukan “Melangit”

Karakter peserta didik juga mendapat perhatian pemerintah. Karakter peserta didik dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu karakter positif  (mahmudah) dan karakter negatif (madzmumah). Menurut Lickona  menyatakan bahwa seseorang yang berkarakter baik  penting ditanamkan di sekolah adalah moral knowing, moral feeling, dan moral action. Ketiga komponen tersebut akan mengarahkan seseorang memiliki kebiasaan berpikir, kebiasaan hati, dan kebiasaan bertindak, baik yang ditujukan kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan bangsa. Empat jenis pendidikan karakter yang berkembang di Indonesia, yaitu berbasis religious (moral based), berbasis budaya (culture based), dan berbasis lingkungan (environment based), serta berbasis humanis (humanity based).

Pendidikan karakter dilandasi sebuah filosofi bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan kepribadian secara utuh. Pribadi utuh tersebut akan terbentuk jika pada diri peserta didik terinternalisasi nilai-nilai dari aspek simbolik, empirik, etika, dan estetika. Internalisasi nilai  dari : 1) aspek simbolik dapat dilakukan melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Nilai inti (core value) yang diperjuangkan untuk diinternalisasi melalui pelajaran Bahasa Indonesia adalah menghargai pentingnya komunikasi; Matematika dapat menginternalisasi nilai kuantitatif (angka)  yang dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan orang lain; 2) aspek empirik melalui  mata pelajaran IPA dan IPS serta ilmu-ilmu yang bersifat empirik nilai inti yang dibawa yakni berpikir logis dan berpikir ilmiah untuk menyelesaikan masalah sehari-hari; 3) aspek ethic melalui mata pelajaran pendidikan moral dan budi pekerti, tujuannya agar peserta didik menghargai etik sehingga mereka mampu memilih perilaku moral; 4) aspek estetik, melalui mata pelajaran seni budaya dan keterampilan, dengan nilai inti adalah nilai keindahan, tujuannya agar peserta didik menghargai keindahan.  Pembauran karakter dan nilai islam ke dalam mata pelajaran khususnya pada jenjang pendidikan sekolah dasar dan menengah diharapkan dapat membentuk karakter terpuji atau positif (mahmudah) peserta didik.

Profil Penulis: Prof. Dr. Sarwi, M.Si. adalah profesor pada bidang Ilmu Pendidikan Fisika di FMIPA UNNES. Latar Belakang Pendidikan S1 Pendidikan Fisika IKIP Semarang, dilanjutkan S2 Ilmu Fisika UGM dan S3 Pendidikan IPA UPI. Diantara mata kuliah yang diampu adalah Gelombang, Metode Penelitian Pendidikan, Teori Pembelajaran, dan Pembelajaran Sains Berbasis Etnosains.  Menggeluti penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bidang: Inovasi Pembelajaran Fisika/Sains berbasis pendekatan abad ke-21, IPA Terpadu berbasis Etnosains, Pengembangan bahan ajar dan asesmen bidang Fisika. Diantara buku yang telah ditulis adalah Penelitian Kependidikan, Teori dan aplikasinya; Ilmu Kebumian dan Gejala; Asesmen Sains Berorientasi Next Generation Science Standards (NGSS); dan IPA Terpadu Berbasis Etnosains. Aktif dalam editorial jurnal dan penulisan artikel jurnal, seminar baik nasional maupun internasional. Penulis juga terlibat aktif dalam organisasi masyarakat diantaranya Ketua Umum Yayasan Pendidikan Sampangan Semarang, dan lain-lain..