Prof. Dr. Ari Yuniastuti, M.Kes.
Profesor Bidang Ilmu Gizi dan Kesehatan FMIPA UNNES

Pendahuluan
Stunting (baca stanting) atau bahasa sederhananya “pendek” -walaupun kedua istilah ini sejatinya berbeda-, merupakan suatu kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya, sebagai akibat dari masalah gizi kronis yaitu kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting merupakan ancaman bagi bangsa karena kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak, sehingga berdampak negatif terhadap kecerdasan anak dan juga meningkatkan risiko anak untuk terkena penyakit tidak menular, seperti diabetes mellitus, kanker, dan penyakit jantung koroner pada saat dewasa nantinya (Kemenkes 2018).

World Bank pada 2017 melaporkan bahwa Indonesia adalah negara keempat di dunia dengan jumlah balita stunting tertinggi, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan India, Pakistan, dan Nigeria. Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di Regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR).

Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), melaporkan bahwa prevalensi balita yang mengalami stunting di Indonesia sebanyak 24,4% pada 2021. Dengan demikian, hampir seperempat balita di dalam negeri yang mengalami stunting pada tahun 2021 lalu. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi di bawah 14% pada 2024. Untuk itu, target penurunan prevalensi stunting setiap tahun harus berkisar 2,7%. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan angka prevalensi stunting di Jawa Tengah, pada 2020 mencapai sebesar 27,7 persen dan pada tahun 2022 berada di angka 20,9 persen. Tetapi apabila persentase itu dikalikan dengan jumlah ibu melahirkan di Jawa Tengah yang rata- rata mencapai 551.000 setiap tahun, maka angka stunting di Jawa Tengah ini masih cukup tinggi.

Permasalahan stunting begitu kompleks, beberapa daerah ada yang tidak mau menerima jika daerahnya dikatakan memiliki banyak anak stunting. Hampir 60% orangtua tidak menerima jika anaknya dikatakan stunting. Bahkan masyarakat banyak yang berkomentar, dana sudah banyak digunakan untuk mengatasi stunting, suatu masalah yang tidak ada wujudnya dan tidak kunjung ada penyelesaian.

Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan stunting, kelompok sasaran dalam percepatan penurunan stunting dalam aturan tersebut, meliputi remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0 sampai 59 bulan. Adapun penanganan penurunan percepatan stunting difokuskan pada daerah-daerah dengan angka prevalensi tinggi dan daerah yang mempunyai jumlah anak stunting tinggi melalui intervensi yang lebih intensif, pendanaan yang terkonsolidasi dan terpadu, sehingga lebih efektif dan efisien. Selain itu juga melibatkan berbagai sektor, seperti Pemerintah kabupaten setempat, perguruan tinggi, stake holder, dll.

Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) di Jawa Tengah, menunjukkan hasil bahwa prevalensi balita stunting di Jawa Tengah pada tahun 2015 sampai tahun 2017 juga masih di atas 20%, yaitu 24,8% pada tahun 2015, 23,9% pada tahun 2016 dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 28,5%. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018 Kabupaten Rembang memiliki prevalensi stunting di persentase 26 persen dengan total kasus bayi lahir stunting pada tahun 2020 Bulan Januari – Oktober sebanyak 425 kasus. Berdasarkan hasil pada sebuah kegiatan workshop Penurunan Gizi Buruk dan Stunting dalam rangka memperingati hari Kesehatan Nasional ke 55 di Fave Hotel Rembang, Hari Kamis, Tanggal 17 Oktober 2019, Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kesehatan menargetkan angka stunting bisa ditekan di bawah 20 persen. Dimana saat ini berdasarkan data pemantauan status gizi (PSG), masalah gizi pendek (stunting) memiliki prevalensi yang tinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.

Angka prevalensi stunting tahun 2021 di kabupaten Rembang, ditengah adanya pandemi Covid-19, meningkat menjadi 24,97%, menempatkan kabupaten Rembang sebagai peringkat ketiga kasus stunting di Provinsi Jawa Tengah. Jumlah kasus stunting di bulan penimbangan Agustus 2021 sebanyak 5566 kasus dari 17 Puskesmas yang ada di kabupaten Rembang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan masalah stunting di Kabupaten Rembang, seperti Gerakan makan ikan (Gemari), Rembuk stunting, Intervensi Gizi lintas sektoral. Permasalahan-permasalahan yang memicu kenaikan stunting diantaranya adanya pandemi Covid-19. Situasi pandemi layanan yang membutuhkan posyandu harus di rapid test, sehingga angka partisipasinya di angka 50%. Variasi disparitas yang tinggi antara puskesmas satu dengan yang lain. Belum semua instansi nasional dan swasta ini mempunyai ruang untuk menyusui, pernikahan usia muda masih banyak terjadi, pola asah asih asuh belum optimal. Perlu dukungan banyak pihak untuk mengatasi stunting. Tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan saja.

Tanggung jawab penurunan angka prevalensi stunting nasional memerlukan keterlibatan aktif multisektor dalam kegiatannya. Konvergensi adalah pendekatan yang dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan program dari pusat hingga desa. Elemen-elemen yang berada di dalamnya saling mendukung satu sama lain sehingga target-target nasional dan daerah, dapat lebih efektif tercapai. Konsep penta helix mengandung pengertian yang hampir sama dengan konvergensi. Konsep pembangunan ‘penta helix‘ adalah pelibatan lima elemen yakni unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media dalam pembanguan nasional. Masalah stunting yang merupakan prioritas nasional juga memerlukan keterlibatan elemen-elemen tersebut dalam upaya penurunan prevalensi nasional.

Kegiatan Pendampingan Stunting
Banyak kegiatan saat ini dihubungkan dengan stunting. Ada Aksi Stop Stunting oleh alumni gizi di desa lokus stunting, ada KKN Tematik mahasiswa di daerah terpencil, dan ada program orang tua asuh untuk keluarga dengan risiko stunting. Ada juga penanaman pohon kelor dan pembuatan makanan berbahan dasar kelor untuk anak berusia di bawah dua tahun (baduta). Ada juga pembagian telur di Posyandu untuk keluarga yang memiliki balita. Stunting menjadi program primadona di berbagai daerah khususnya di pedesaan. Program percepatan penurunan stunting pada dasarnya berbasis kebijakan. Di Indonesia telah lahir Perpres (Peraturan Presiden) no 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang menggantikan Perpress no 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Perpres yang baru ini menegaskan program berbasis keluarga di mana sebelumnya berbasis kelompok sasaran seperti ibu hamil, ibu menyusui, atau anak baduta. Melalui peran BKKBN yang ditunjuk sebagai koordinator diharapkan penanggulangan stunting berbasis keluarga ini akan sukses. Kekurangan gizi pada ibu hamil di awal kehamilan ini akan mempengaruhi proses pertumbuhan janin termasuk panjang tulang. Itulah sebabnya perhatian kepada periode ini sangat penting.

Perhatian akan kebutuhan anak akan makanan yang berkualitas sejak lahir sampai 2 tahun sangat diperlukan. Saat lahir sampai 6 bulan, bayi hanya perlu ASI SAJA, dan setelah itu bayi harus diberikan makanan selain ASI atau sering disebut MP-ASI (Makanan Pendamping ASI). Makanan ini harus merupakan campuran dari berbagai bahan makanan termasuk sayur, telur, ikan, atau daging. Sayang sekali, kebiasaan masyarakat di pedesaan atau pada keluarga dengan pendidikan yang rendah atau dengan kondisi sosial ekonomi terbatas, kualitas MP-ASI sangat rendah. Apalagi ditambah dengan adanya mitos terkait pemberian telur, ikan dan daging pada anak. Dibutuhkan pendampingan yang intensif agar kualitas makanan yang diberikan pada anak sampai usia dua tahun ini terpenuhi.

RAN PASTI adalah Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting yang merupakan Perban (Peraturan BKKBN ) No 12 tahun 2021, merupakan landasan operasional percepatan penurunan stunting dari tingkat nasional sampai desa pada tahun 2021-2024. Berbagai aktivitas yang terkait percepatan penurunan stunting dipaparkan secara lengkap dan sistematis. Dengan peraturan ini diharapkan target 14% angka prevalensi stunting nasional di tahun 2024 bisa tercapai. EMPAT PASTI adalah upaya yang bisa
dijadikan pegangan agar kelompok sasaran menerima pelayanan secara optimal. Pertama, pastikan bahwa seluruh sasaran tercakup dalam program. Kedua, pastikan seluruh sasaran dapat mengakses pelayanan yang tersedia. Ketiga, pastikan bahwa sasaran menerima program di tempat pelayanan. Keempat, pastikan bahwa program yang dilaksanakan tercatat dan terlaporkan. Kelihatannya memang sepele, namun ke Empat Pasti itu hanya bisa dilaksanakan kalau semua personel melakukan tugasnya dengan baik dan optimal. Kerja cerdas dan kerja ikhlas tentu menjadi prasyarat.

Peran Perguruan Tinggi Dalam Percepatan Penurunan Stunting
Dalam rangka mempercepat penurunan angka prevalensi stunting, maka diperlukan upaya-upaya pencegahan dan penurunan yang serius dari pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Namun, inisiatif dalam percepatan penurunan angka prevalensi stunting tentunya tidak harus datang hanya dari pemerintah daerah saja. Inisiatif tersebut juga dapat muncul dari perguruan tinggi. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam percepatan penurunan angka prevalensi stunting. Perguruan tinggi dapat mengisi peran strategis melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan salah satu bagian dari tri dharma perguruan tinggi. Perguruan tinggi juga dapat berpartisipasi bersama elemen-elemen masyarakat dalam kegiatan pengabdian melalui aksi sosialisasi, edukasi, maupun pelatihan dan workshop secara langsung kepada masyarakat luas. Sosialisasi dan edukasi yang diberikan, misalnya, dapat berbentuk sosialiasi terhadap manfaat pemenuhan gizi balita dalam mencegah stunting, edukasi terhadap resiko serta bahaya stunting pada balita, atau dengan tema-tema pencegahan dan penurunan stunting lainnya.

Perguruan tinggi atau akademisi semestinya memiliki peran yang sangat penting dalam upaya penurunan prevalensi dan mendukung pelaksanaan program stunting. Perguruan tinggi berperan menjaga sustainibilitas program penurunan stunting, memberikan bukti ilmiah pada pelaksana program, memperkuat kapasitas pemerintah kabupaten/kota, dan memberikan pendampingan dalam pengembangan model intervensi yang efektif, sekaligus sebagai bahan pembelajaran praktik baik.

Sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bahwa Ditjen Dikti mendukung program penanganan kasus stunting yang digalakkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dukungan tersebut terwujud dalam program Kampus Siaga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Bidang GIZI (AIPGI). Program tersebut bertujuan menggerakkan perguruan tinggi sehingga mendorong mahasiswa dalam 8 aktivitas Kampus Merdeka yang dilakukan di luar kampus demi membantu penanganan stunting. Pendidikan tinggi juga berperan memberikan rekomendasi dari hasil kajian atau penelitian dalam penanganan stunting. Tidak kalah penting, implementasi praktik penanganan percepatan penurunan stunting di tingkat wilayah dengan melakukan edukasi dan promosi kepada masyarakat melalui pendekatan keluarga oleh kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga terkait merupakan kebijakan dari pendidikan tinggi.

Adanya peran perguruan tinggi sangat penting dalam meyakinkan para pemimpin daerah bahwa stunting bukan hanya urusan kesehatan. Selain itu juga membantu memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan gizi dan isu gizi, serta pengabdian masyarakat perguruan tinggi dapat membantu mendata mengenai kasus yang ada sehingga dapat menjadi data yang utuh, lengkap dan terpadu. Perguruan tinggi harus mampu memberikan peran penting terutama di bidang gizi sehingga mampu membawa nama baik Indonesia dalam memperbaiki permasalahan gizi terutama dalam permasalahan anemia pada remaja dan stunting. Ini dapat dilakukan dengan mengedukasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai stunting, terutama kepada penduduk miskin.

Praktik Baik UNNES dalam Penanggulangan Stunting
Sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi dan sebagai bentuk partisipasi dalam percepatan penurunan angka prevalensi stunting, akademisi dan mahasiswa UNNES ikut berperan serta dalam kegiatan Aksi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Rembang melalui program penelitian terapan serta KKN tematik melalui UNNES GIAT bertema Stunting. Kegiatan penelitian terhadap balita stunting yang terfokus pada percepatan penurunan angka stunting ini merupakan program UNNES yang didanai Ditjen Dikti melalui program Kedaireka. Program Matching Fund Kedaireka adalah program pendanaan dari Ditjen Dikti yang melibatkan insan perguruan tinggi dan Dunia usaha dunia Industri (DUDI), pemerintah daerah dan lembaga lainnya. Dalam program ini akademisi berkolaborasi dengan pemerintah setempat untuk melaksanakan kegiatan aksi percepatan penurunan stunting di Kabupaten Rembang. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah dilakukan antara lain : FGD, sosialisasi, edukasi/pelatihan/workshop, seminar nasional serta lomba. Edukasi/pelatihan dan wokrshop dilakukan melaluji pemberdayaan masyarakat berbasis aset, sumber daya alam lokal dan partisipasi masyarakat.

Pelaksanaan program Aksi intervensi untuk pencegahan stunting menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD). Participatory Action Research merupakan penelitian yang melibatkan secara aktif semua pihak yang relevan dalam mengkaji tindakan yang sedang berlangsung (di mana pengalaman mereka sendiri sebagai persoalan) dalam rangka melakukan perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik, merupakan proses di mana peneliti dan partisipan bekerja bersama secara sistematis dalam menggali dan menyelesaikan permasalahan. Peneliti melibatkan masyarakat dalam identifikasi dan analisis masalah untuk kemudian dilakukan aksi penyelesaian masalah. Sedangkan pendekatan ABCD adalah pengembangan masyarakat yang didasarkan pada aset lokal yang terdapat di suatu wilayah. Aset tersebut dikembangkan sehingga memecahkan permasalahan yang terdapat di wilayah tersebut. Aset tersebut dapat berupa individu, institusional, asosiasi dan organisasi mapun sumber daya alam. Oleh karena itu program berbasis kearifan lokal ini merupakan program dengan basis masyarakat yang berperan penting di semua tahapan proses perubahan sosial dan perilaku. Ketika masyarakat terlibat dalam suatu proses perubahan, dan berperan dalam suatu pemecahan masalah, terlibat secara penuh, dan menjadi agen perubahan mandiri maka mereka akan mengadopsi perilaku baru tersebut dan menyepakati suatu norma sosial baru untukmendorong perubahan perilaku yang lebih luas. Hal ini juga mendorong penerimaan masyarakat untuk melakukan perubahan perilaku dan keberlanjutan dari aktivitas, guna mendukung perubahan yang efektif, serta peningkatan praktik baik yang mendukung pencegahan stunting.

Pencegahan stunting dilakukan pula dengan intervensi makanan pada baduta maupun balita. Pemberian makanan tambahan (PMT) dan MP-ASI menjadi salah satu intervensi yang dapat dilakukan sebagai upaya pemulihan stunting. Seringkali PMT dan MP-ASI terbuat dari bahan yang sulit dijangkau oleh masyarakat, sehingga orang tua atau pengasuh enggan memberikan makanan bergizi tinggi karena keterbatasan ekonomi. Padahal nyatanya, banyak sumber daya pangan lokal yang memiliki kandungan gizi tinggi di sekitar wilayah tempat tinggal orang tua anak dengan stunting. Kurangnya pengetahuan mengenai sumber gizi dan cara pengolahan menjadi salah satu kendala mengapa sumber daya alam yang tersedia tidak dimanfaatkan secara maksimal. Cukup disayangkan bahwa orang tua tidak dapat memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang ada dan tersedia secara murah untuk menolong anak mereka keluar dari stunting.

Kabupaten Rembang memiliki sumber daya pangan lokal yang kaya akan asupan gizi yang dapat dimanfaatkn sebagai PMT Balita. Bahan pangan lokal tersebut adalah kelor dan ikan laut. Kelor dapat dimanfaatkan daunnya yang masih muda untuk dijadikan sayur. Masyarakat jarang memanfaatkan daun kelor sebagai sayuran karena mitos yang berkembang bahwasanya daun kelor bisa melunturkan susuk dan mengusir setan. Padahal manfaat daun kelor sangat baik untuk kesehatan, apalagi untuk anak-anak. Daun kelor dilaporkan memiliki kandungan protein (19-29 persen), serat (16-24 persen), lemak, karbohidrat, mineral, kalsium, magnesium, fosfor, besi, sulfur, asam oksalat, vitamin A, vitamin B (kolin), vitamin B1 (thiamine), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3, vitamin C dan vitamin E. Kandungan serat yang cukup juga baik untuk pencernaan anak-anak. Tumbuhan kelor juga mudah tumbuh dan dapat ditemui dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Sehingga memudahkan masyarakat dalam budidayanya.

Sedangkan untuk ikan laut sendiri memiliki banyak nutrisi penting untuk anak-anak. Ikan laut merupakan salah satu bahan makanan dengan beragam kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, mulai dari protein, asam lemak omega-3, hingga vitamin serta mineral, seperti vitamin B kompleks, vitamin D, zat besi, kalsium, selenium, dan zinc. Untuk masyarakat daerah pesisir seperti Kabupaten Rembang tentunya sangat mudah untuk menemui ikan laut. Nilai jual ikan laut juga masih dapat dijangkau oleh masyarakat karena wilayahnya yang berada dekat dengan garis pantai. Pengolahan ikan laut pun dapat beragam, tidak hanya digoreng saja. Layaknya orang dewasa, anak-anak juga memiliki titik jenuh terhadap suatu makanan. Sehingga orang tua atau pengasuh perlu melakukan variasi supaya anak dapat tercukupi kebutuhan gizinya.

Daun kelor dan ikan laut dapat dijadikan pilihan nutrisi tepat untuk meningkatkan asupan nutrisi pada anak sebagai upaya keluar dari kasus stunting. Sumber daya yang tersedia melimpah, harga yang mudah dijangkau, dan pengolahan yang mudah tentunya menjadi suatu kemudahan untuk orang tua dan pengasuh demi anak yang sehat dengan tumbuh kembang yang maksimal.

Penutup
Kegiatan-kegiatan praktik baik yang telah dilakukan oleh akademisi dan mahasiswa UNNES bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap stunting serta cara-cara pencegahan dan penanggulangan stunting. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, UNNES berkolaborasi bersama pihak Pemkab Rembang, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, puskesmas, dan elemen-elemen masyarakat lainnya, dan hal ini menjadi kunci atas keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut. Melalui kegiatan aksi intervensi holistik terintegrasi berbasis kearifan lokal pada masyarakat kabupaten Rembang, diharapkan akan mendapatkan pengetahuan tentang stunting, dan dapat terdorong untuk berperan secara aktif dalam mencegah terjadinya kasus stunting disekitar wilayahnya sejak dini. Selain itu diharapkan balita stunting dapat secara perlahan kembali normal dan dapat tumbuh sehat selayaknya anak-anak seusianya.

Ucapan terima kasih kami sampaikan pada Ditjen Dikti yang telah mendanai kegiatan aksi intervensi holistik terintegrasi berbasis kearifan lokal di kabupaten Rembang melalui Matching Fund 2022 Kedaireka. Terima kasih pada Tim LP2M yang membantu proses adminitrasi. Terima kasih kami haturkan untuk Bapak Dekan FMIPA UNNES yang telah mendukung sepenuhnya kegiatan program aksi intervensi holistik terintegrasi program Kedaireka. Terima kasih kami haturkan kepada bapak Wakil bupati Rembang selaku ketua Tim Percepatan Penuruna Stunting, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang beserta jajarannya yang telah bersedia berkolaborasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan Kedaireka, Terima kasih tak terhingga kepada teman-teman dosen Tim MF 2022 Kedaireka yang telah membersamai senantiasa penuh semangat dan diwarnai suka duka dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Rembang, yaitu : Prof. Dr. drh. R. Susanti, MP, Prof. Dr. Noor Aini Habibah, M.Si, Dr. Dewi Mustikaningtyas, M.Si.Med, dr. RR. Sri Ratna Rahayu, M.Kes, Ph.D, Ervi Rachma Dewi, S.K.M, M.Kes, dr. Yanuarita Tursinawati, M.Si.Med, Kholiq Budiman, S.Pd, M.Pd. Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan tutur kata dan sikap saya yang kurang berkenan, mohon dimaafkan dan diikhlaskan. Semoga Upaya percepatan penurunan stunitng dapat terwujud sesuai harapan. Aamiin Yaa Robbal’Aalamin.

Daftar Pustaka
Veni Hadju. Komunikasi whatsapp group.

Anonim. (2021, February 4). Peran pendidikan Tinggi Dalam Mendukung Penanganan stunting di Indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Retrieved November 8, 2022, from https://dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kabar/peran-pendidikan-tinggi-dalammendukung-penanganan-stunting-di-indonesia/

Anonim. (n.d.). Peran Perguruan Tinggi Dalam Penta Helix Penurunan stunting. TP2AK. Retrieved November 8, 2022, from https://stunting.go.id/peran-perguruan-tinggidalam-penta-helix-penurunan-stunting/

Anonim. (n.d.). Kandungan Gizi Daun Kelor, Segar. Daun kelor, segar, Manfaat, Khasiat, Kandungan Gizi per 100 gram | Andra Farm. Retrieved November 8, 2022, from https://m.andrafarm.com/_andra.php?_i=daftar-tkpi&kmakan=DR038#nosis11

Prof. Dr. Ari Yuniastuti, M.Kes

Prof. Dr. Ari Yuniastuti, M.Kes adalah profesor pada bidang Ilmu Gizi dan Kesehatan. Latar Belakang Pendidikan S1 Nutrisi dan Makanan Ternak, dilanjutkan S2 dan S3 bidang Ilmu Kedoktetan Dasar dan Kesehatan. Mengampu mata kuliah Gizi dan Kesehatan, Biokimia Nutrisi, Biokimia, Kimia Organik, Biostatistik. Fokus Penelitian terkait Nutrigenomik dan Pangan Fungsional